Oleh: bening1 | Februari 8, 2008

Pesan Malaikat Jibril Untuk Kita

Tentang mati.., sering kali banyak orang yang lupa. Sehingga malaikat Jibril pernah berpesan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan maksud agar disampaikan kepada kita semuanya.

Hiduplah semau-mu, tetapi ingatlah bahwa suatu saat engkau mati…
Berbuatlah semau-mu, tetapi ingatlah bahwa perbuatan apapun yang engkau lakukan akan dibalas sesuai dengan yang engkau lakukan itu…
Cintailah segala yang engkau cintai, tetapi ingatlah bahwa suatu saat engkau akan mengucapkan selamat berpisah dengannya… .

Seorang ibu meninggal sebulan lalu,ia meninggalkan tiga orang anak..

Masih teringat dalam benakku, ketika keranda sudah sampai di tepi liang kuburnya, masuklah tiga orang ke liang lahat untuk melakukan proses penguburan. Salah satu dari ketiga orang tersebut adalah anak kandung dari sang ibu yang meninggal tersebut.

Dengan wajah yang nampak sedih, sang anak pun mengubur jenazah ibunda dengan timbunan tanah dengan penuh hati-hati. Melihat ekspresi sang anak tersebut, seorang tetanggaku yang kebetulan berdiri di dekatku secara spontan berkata dengan setengah berbisik. Sebuah kalimat yang ditujukan pada dirinya sendiri. Dan kata-kata itu selalu kuingat dengan kuat.

Katanya :
“…ternyata beginilah akhir dari sebuah cerita hidup seseorang… “
Aku tertegun dengan kata-kata yang bernada filosofis itu. Sebuah kalimat yang diucapkan secara spontan oleh orang-orang kampung, orang biasa yang notabene bukan seorang ulama, bukan pula seorang ustadz.

Tapi aku sungguh terpesona dengan kalimat itu. Setelah aku renungkan kata-kata itu, sungguh benar adanya…! Hidup adalah sebuah cerita yang unik, sejak manusia dalam buaian ibundanya, sampai kembalinya ia kepada pangkuan Sang Pencipta. Seluruh perjalanan hidupnya sangat menarik untuk direnungkan. Kalau kita cermati, ternyata semua persoalan yang terjadi dalam hidup ini hanyalah bunga-bunga hidup belaka. Dibalik semua persoalan dan kisah kehidupan itulah, tersimpan nilai mahal yang perlu kita renungkan makna hakikinya.

Ketika kita menyaksikan sebuah pemakaman, sebagai akhir dari perjalanan seseorang di dunia, akankah terpikir oleh kita…?
Mengapa kemarin kita kikir ?
Padahal yang kita kikirkan tidak lebih adalah harta yang tidak pernah dibawa pulang ke kampung keabadian. Ketika kita menyaksikan sebuah jenazah yang sudah tak berdaya semacam itu, kita pun akan merenung…

Mengapa ketika masih hidup kita pernah sombong kepada saudara kita lainnya? Padahal manusia tak memiliki apa-apa kecuali hanya sebuah tubuh terbujur kaku yang minta tolong bantuan orang lain untuk masuk ke peristirahatan terakhirnya. ..

Ketika kita menyaksikan proses pemakaman seperti itu, Mengapa pula kadang kita masih menyandarkan amal kebajikan kita pada orang lain?
Padahal ketika jenazah masuk ke liang kuburnya, banyak manusia di atas tanah pekuburan yang tak ambil peduli terhadap si fulan yang menghadap Sang Pencipta…

Tinggallah si fulan yang mempertanggungjawabkan segala perbuatannya secara sendiri. Tanpa bantuan orang lain lagi..

Akh…! Inilah akhir dari sebuah cerita kehidupan yang perlu untuk direnungkan. ..Sungguh tak pantas kita kikir, sungguh tak pantas kita sombong, sungguh tidak pada tempatnya kita merasa paling kuat, paling berkuasa, atau merasa banyak temannya… Karena di tanah itu, di rumah itu, di tempat itu, seseorang tidur sendiri, merana sendiri, menyesal sendiri, dan ia akan menanggung akibat dari perbuatannya ketika hidup di dunia. Penyesalan yang hebat pun tak ada gunanya lagi…

Di bagian akhir dari surat Yaasiin diceritakan betapa orang-orang kafir masih belum percaya bahwa nantinya mereka akan dibangkitkan, dan mereka akan mempertanggungjawab kan segala perbuatannya.

QS. Yasin (36) : 78-82
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”
Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.

Dan merekapun menyesal luar biasa, setelah mengetahui sendiri akibat dari perbuatannya, yang ternyata mereka akan memetik hasilnya. Penyesalan itu tergambar dengan jelas dalam surat al-mukminuun berikut ini.

QS. Al-Mukminuun (23) : 99 -100
(Demikianlah orang-orang kafir itu) hingga apabila telah datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata :”Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan. “

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:”…Ya Rasul, siapakah orang yang paling pintar itu?…” Rasul tercinta menjawab :
” …Aktsaruhum dzikran lil mauti wa asyad duhumusti’ daadu lahu, ulaa ika humul akyaasu, dzahabuu bi syarafiddunya wa karaa matil aakhirah”
yaitu siapa saja di antaramu yang terbanyak mengingati mati, dan paling dahsyat mengadakan persiapannya. Mereka itulah orang-orang pintar. Yang pergi dengan kemuliaan dunia, dan sekaligus kehormatan akhirat.
(HR. Ibnu Majah)

Sungguh sangat masuk akal, apa yang disampaikan Rasulullah itu. Dalam kondisi semacam itu, manusia tak punya pegangan lain kecuali berpegang pada tali Allah, sebagai satu-satunya Dzat Penentu hidup dan mati.

Mengapa mengingat mati lebih pintar dari yang lainnya? Sebab keadaan ketika mati mencerminkan sukses atau gagalnya seseorang dalam perjalanan hidupnya. Mati adalah ending kehidupan yang dapat dipakai sebagai ‘tanda’ apakah seseorang berhasil atau tidak dalam kehidupannya. Waktu dunia sangatlah pendek dibanding dengan waktu akhirat. Dan peristiwa mati adalah merupakan pintu masuk pada kehidupan yang sesungguhnya.

Ternyata semua yang ada, yang selama ini kita cari, bukanlah kepunyaan kita. Semua yang kita dapatkan selama hidup ini, bukanlah dalam kekuasaan kita. Waktu yang kita miliki selama ini, ternyata begitu cepatnya berlalu… jatah umur kita makin pendek..

Tubuh ini terbagi menjadi 3 bagian,
Jasad.. akan kembali menjadi tanah, jatah untuk cacing di dalam kubur
Ruh.. akan kembali ke PenciptaNya,mempertanggungjawabkan sgalanya selama di dunia
Amal sholeh.. yang terus menemani kita, ketika smua yang kita cintai justru meninggalkan kita..

Ya Khabir..,Ya Ghoffur..Subhanaallah Ya Awalu, Subhanaallah Ya Akhir …
Engkau Yang Maha Memberi Keputusan.. Ampunilah dosa kami Ya Allah
Maha Suci Engkau yang telah menciptakan kami dan akan mematikan kami nanti
Jadikanlah qalbu yang Engkau anugrahkan ini tidak buta akan hari Akhir
Agar kami bisa memutuskan mana sesungguhnya yang benar membawa kebahagian bagi kami
Dan mana yang sesungguhnya hanyalah kebahagian semu
Yang justru menggiring kami ke dalam neraka saqar bukan SurgaMu yang mulia. Amin

Surat dari Nany I setelah diedit sedikit oleh penulis

About these ads

Responses

  1. saya pernah mendenga dari sebuat pengajian atau buku, saya lupa, bahwa kita diharamkan untuk mengungkit dosa dosa orang yang telah meninggal, atau kesalahannya pada kita, karena dia telah dipanggil allah, maka urusannya dengan keduniawian telah selesai, kecuali utang piutang.

    urusan dosa mereka adalah urusan almarhum dengan allah. dan janganlah kita menambah beban almarhum dan keluarga yang ditinggalkan dengan mengungkit segala kesalahannya. kalo kita memang orang beriman seyogyanya segala kesalahannya pada kita telah kita maafkan.

  2. Makna yang terkandung dalam cerita di atas, adalah bahwa nantinya kita semua pasti kembali kepada Allah dan bahwa kita harus mengingat, yang kita pertanggungjawabkan nantinya adalah amalan sholeh kita di dunia, ilmu kita, harta kita dan doa anak-anak kita.

    Bahwa apabila kita kembali kelak tidak satupun di dunia ini yang setia pada kita, kecuali hanya amalan kita di dunia yang ikut (amal baik maupun amal buruk), istri, anak, harta, semua tak ada yang ikut mati dikubur……………….

  3. uraian yang bagus, bikin aku merinding sungguh tak terasa betapa bodohnya kita ya… terimakasih atas artikelnya semoga allah memberkati Anda.

  4. subhanallah…..

  5. ass
    mau bertanya langsung ke pak ustad
    1. yang dimaksud dengan jaljalut
    2. siapa allah sebenarnya
    wass

  6. SubhanAllah, inti dari cerita itu untuk mengingatkan kita baertaubat…segera bertaubat dan benar benar bertaubat selagi belum ajal menjemput…subhanAllah.

    Tinggalkan masa lalu yang penuh dosa, tatap kedepan dengan bertaubat nasuha dan beribadah dengan ilmu agar kita tidak terjebak kelembah dosa lagi….amin..nauzubillah minzalik…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: