Oleh: bening1 | Januari 11, 2008

Dalih Belum Datang HidayahNya

“Sebenarnya saya tahu shalat dan puasa itu wajib,tapi bagaimana ya…memang saya belum diberi hidayahNya.”
Atau anak muda yang sadar bahwa berduaan dengan orang yang bukan muhrimnya adalah dosa
“Ngerti sih pacaran ngga boleh,apalagi kemana-mana berdua,maka yang ketiganya setan..tapi gimana,tidak mudah untuk melawan keinginan terus bersama,mungkin Allah belum memberi hidayah untuk saya.”
Atau orang yang susah taubat
“Aku belum siap..aku nunggu dapat hidayah.”
Atau orang kaya tetapi tidak mau menunaikan ibadah haji,ia mengatakan
“Ya..mungkin panggilan Allah itu belum datang saat ini”
Sering bukan mendapati dalih seperti ini? Benarkah belum ada hidayah? Atau jangan-jangan ini karena lemahnya iman dan condongnya diri pada nafsu?

Sebenarnya ketika orang tersadar akan kesalahannya,ia telah mendapat hidayahNya[petunjuk].Maka,setelah mendapat hidayahNya seharusnya ia tidak boleh menunda-nunda untuk bertaubat dan beramal sholeh yang lebih banyak.Betapa ruginya orang yang suka menunda-nunda beramal sholeh setelah mendapat hidayah dari Allah. Allah SWT menyindir orang yang demikian seperti ini,”Sungguh,sebenarnya telah datang keteranganKu kepadamu tapi kamu mendustakannya malah kamu menyombongkan diri,dan kamu termasuk orang yang kafir.”

Syekh Ibnu Atha’ dalam al Hikam menuturkan,”menunda amal perbuatan kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah kebodohan yang mempengaruhi jiwa.” Sedangkan kebodohan itu sendiri disebabkan karena beberapa hal:
1. Lebih mengutamakan kepentingan dunia.
2. Menganggap masih banyak kesempatan lain,padahal jika ajal tiba-tiba menjemput tidak akan ada lagi kesempatan.
3. Niat yang lemah sehingga hasrat kebaikan itu segera berubah ketika tidak dilaksanakan.
Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka akan menghalangi turunnya hidayah Allah. Sehingga seseorang tsb tidak terasa terus gemar melakukan dosa.

Abu Sulaiman ad-Darany ra berkata bahwa Allah telah mewahyukan kepada Nabi Daud as:
“Sesungguhnya Aku menjadikan hawa nafsu itu hanya untuk orang-orang yang lemah daripada hambaKu,karena itu awaslah jangan sampai hatimu tertawan oleh nafsu itu maka seringan-ringannya siksa untuknya adalah Aku cabut manisnya rasa cinta kepadaKu dari dalam hatimu.”

Nah.. jikalau Allah telah berfirman begitu gamblang seperti di atas kita masih tidak memahami,betapa bodohnya manusia,betapa ruginya tidak dapat merasakan Allah dalam kesehariannya.Ya pantaslah kalau hidup terasa hampa.. kosong.. kering.. walaupun materi cukup,tetapi hatinya tidak bisa merasakan manisnya cinta pada Allah. Karena setiap datang petunjuk untuk melakukan kebaikan,ia lewatkan begitu saja, lama-lama jadi kebal, malah Allah yang dijadikan dalih belum memberi hidayah. Manusia.. manusia… tidak henti-hentinya melakukan kebodohan & menganiaya diri sendiri.

Iklan

Responses

  1. hidayah akan datang dengan ikhtiar manusia juga… mencari hidayah, itu dia prosesnya, toh hasil ato putusan AKAN DI KASIH hIDAYAH ATO ENGGAK itu kan sepenuhnya kekuasaan Allah.

  2. Hidayah..datang dengan sendirinya…kerjakanlah perintahNya jgn tunggu lama2..maut kita tdk pernah menunggu hidayah…

  3. menurutku, hidayah bisa kita dapat asalkan kita yakin hidayah itu akan datang pada diri kita,dan janganlah berputus asa…tetap semangat,,,,,untuk meraih ridho na Allah SWT.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: