Oleh: bening1 | Februari 8, 2008

Perniagaan Rasulullah SAW dengan harta Khadijah ra dan pernikahannya dg Khadijah ra

Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Inu Hisyam adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Ketika mendengar kabar tentang kejujuran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemuliaan akhlaknya. Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon, dan Yordania).

Khadijah membawakan barang dagangan yang lebih baik dari apa yang dibawakan kepada orang lain. Dalam perjalanan dagang ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani Maisarah, seorang kepercayaan Khadijah. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima tawaran ini dan berangkat ke Syam bersama Maisarah meniagakan harta Khadijah. Dalam perjalanan ini Nabi berhasil membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah bertambah terhadapnya.

Selama perjalanan tersebut Maisarah sangat mengagumi akhlak dan kejujuran Nabi. Semua sifat dan perilaku tersebut dilaporkan Maisarah kepada Khadijah. Khadijah tertarik pada kejujurannya, dan ia pun terkejut oleh keberkahan yang diperolehnya dari perniagaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Khadijah menyampaikan hasratnya untuk menikah dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perantaraan Nafisah binti Muniyah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya, kemudian Nabi menyampaikan hal itu kepada paman-pamannya. Setelah itu, mereka meminang Khadijah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari paman Khadijah, Amr bin Asad. Ketika menikahinya, Nabi berusia dua puluh lima tahun, sedangkan Khadijah berusia empat puluh tahun.

Sebelum menikah dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan Atiq bin A’idz at-Tamimi, dan yang kedua dengan Abu Halah at-Tamimi; namanya Hindun bin Zurarah. 1

Mengenai kedudukan dan keutamaan Khadijah dalam kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ia tetap mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah sepanjang hidupnya. Telah disebutkan di dalam riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Khadijah adalah wanita terbaik pada zamannya.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali ra pernah mendengar Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik wanita (langit) adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita (bumi) adalah Khadijah binti Khuwailid.” 2

Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata : “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali kepada Khadijah, sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Adalah Rasulullah ketika menyembelih kambing, ia berpesan, “Kirimkan daging kepada teman-teman Khadijah.” Pada suatu hari aku memarahinya, lalu aku katakan, “Khadijah?” Kemudian Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku telah dikaruniai cintanya.” 3

Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah ra, ia berkata : “Hampir tidak pernah Rasulullah keluar rumah sehingga menyebut Khadijah dan memujinya. Pada suatu hari Rasulullah menyebutnya, sehingga menimbulkan kecemburuanku. Lalu aku katakan, “Bukankah ia hanya seorang tua yang Allah telah menggantikannya untuk kakanda orang yang lebih baik darinya?” Kemudian Rasulullah marah seraya bersabda, “Demi Allah, Allah tidak menggantikan untukku orang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika orang-orang ingkar, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia membela dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku, dan aku dikaruniai Allah anak darinya, sementara aku tidak dikaruniai anak sama sekali dari istri lainnya.”

Sehubungan dengan pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Khadijah, kesan yang pertama kali didapatkan dari pernikahan ini ialah, bahwa Rasulullah sama sekali tidak memperhatikan faktor kesenangan jasadiah. Seandainya Rasulullah sangat memperhatikan hal tersebut, sebagaimana pemuda seusianya, niscaya beliau mencari orang yang lebih muda, atau minimal orang yang tidak lebih tua darinya. Nampaknya, Rasulullah menginginkan Khadijah karena kemuliaan akhlaknya diantara kerabat dan kaumnya, sampai ia pernah mendapatkan julukan ‘Afifah Thahirah (wanita suci) pada masa jahiliyah.

Pernikahan itu berlangsung hingga Khadijah meninggal dunia pada usia enam puluh lima tahun, sementara itu Rasulullah telah mendekati lima puluh tahun, tanpa berfikir selama masa ini untuk menikah dengan wanita atau gadis lain.

Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

———————–
1 Diriwayatkan oleh Ibnu Sayyidin-Nas dalam ‘Uyunul Atsar, Ibnu Hajar dalam al-Ishabah dan lainnya.
2 Kata ganti di dalam kata nisa’iha seperti ditunjukkan oleh riwayat Muslim kembali kepada langit untuk yang pertama (Maryam) dan kepada bumi untuk yang kedua (Khadijah). Berkatalah ath-Thaibi: kata ganti yang pertama kembali kepada umat di masa Maryam hidup., yang kedua kembali kepada umat ini. Lihat Faithul Bari, 7/91.
3 Muttafaq ‘Alaih, lafazh ini bagi Muslim.

(Sumber : Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)


Responses

  1. Dalam salah satu hadits, disebutkan bahwa Khadijah adalah perempuan terbaik dari golongan Islam, sebagaimana Maryam binti Imran menjadi wanita terbaik dari golongan Nasrani. Sebelum datangnya Islam, ia sudah dijuluki sebagai ath-thahirah “perempuan suci”, karena ia memiliki kehormatan, kedudukan tinggi, keimanan sejati, jiwa besar, dan perilaku suci.

    Dari sifat-sifat kemuliaan yang dimiliki Khadijah, ternyata mampu mengantarkannya pada kesuksesan yang gemilang. Selain kaya raya dan terkenal sebagai pedagang yang sukses, ia bahkan juga mendapatkan kabar gembira dari Allah yang disampaikan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw berupa rumah di surga yang terbuat dari kayu.

    Kesuksesan bisnis Khadijah bukan terjadi secara kebetulan, tapi di dalamnya terdapat konsep yang amat cerdas dan universal. Sebagaimana disebutkan oleh Khoirul Amru Harahap, Lc, M.H.I dalam buku Rahasia Sukses Bisnis Khadijah terbitan QultumMedia ini, yang terbagi kepada dua faktor: internal dan eksternal.

    Faktor internal terdiri dari keimanan yang kokoh dan spiritualitas yang tinggi, mentalitas wirausaha, memiliki modal dan pandai mengelolanya, kemampuan merekrut karyawan dan mejalin mitra kerja, suka berderma, berani mengambil keputusan dan pandai membaca peluang. Sedangkan, secara eksternal, Mekah merupakan daerah strategis serta cocok untuk iklim usaha dan memiliki stabilitas kemanan.

    Dari faktor-faktor di atas, kenapa keimanan menjadi bagian dasar penentu kesuksesan bisnis Khadijah? Dengan gamblang, penulis menjelaskan bahwa iman memiliki pengaruh yang sangat luar biasa, dahsyat, dan sangat penting dalam menentukan maju tidaknya bisnis seseorang. Karenanya, keimanan Khadijah yang kokoh merupakan kunci rahasia pertama di balik kesuksesan bisnisnya. (hal. 81)

    Sementara itu, hampir semua pebisnis di Mekah ketika itu, semuanya paganisme. Sehingga, mereka benar-benar tidak memiliki apa yang dimiliki Khadijah, yaitu berupa kematangan spiritualitas. Sebab, dari iman itulah akan membuahkan kekuatan batin dan jiwa, sikap tidak pernah gentar, rasa aman dan tidak mudah putus asa, rasa harapan, rasa penuh percaya diri (self confidence), dan membuahkan sikap toleran dan damai. Dengan demikian, Khadijah menjadi pemenang dalam persaingan bisnis yang dilakukannya, tanpa harus mengotori tanggannya dengan cara-cara yang anarkis.

    Kemudian, bagaimana dengan faktor-faktor lainnya? Tidak kalah sama hebatnya, semuanya mengikat satu sama lain dan menyatu dalam integritas sang istri Nabi saw ini. Selain itu, faktor-faktor dan konsep yang diterapkan Khadijah dalam menjalankan bisnisnya, ternyata sangat relevan dengan pendapat-pendapat para ahli di dunia bisnis zaman modern ini.

    Lebih jauhnya dan lebih detail, Anda bisa mengetahui bagaimana perjalanan karier dan bisnis Khadijah, apa kunci-kunci rahasia kesuksesan bisnisnya, benarkah ia sukses bisnis karena menikah dengan Muhammad saw, bagaimana cara berbisnis yang Islami dan menguntungkan. Dan, apa saja doa untuk sukses usaha?
    Anda bisa membacanya di buku “Rahasia Sukses Bisnis Khadijah”
    Lihat situs terkait: http://www.qultummedia.com

  2. penulisan ini :Ibnul Atsir dan Inu Hisyam benar ya? inu atau ibnu?

    gak apa-apa kan walau hal kecil dikoreksi.
    juga mau menambahkan penjelasan, maisarah di sini adalah lelaki.
    walau pun namanya perempuan (menurut kita, apalagi di suku sunda, nama maisarah itu untuk perempuan) dan jika ditulis ada tamarbutho nya. kata guru ngaji saya maisarah itu laki-laki.

  3. Maisarah,akhwat aw ikhwan ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: