Oleh: bening1 | Februari 26, 2008

Dikejar Seorang Pengemis

Ada apa seorang pengemis sampai mengejar seorang jama’ah haji…?

Seorang kawan ketika melakukan shalat di Masjid Nabawi, suatu saat pernah dikejar oleh seorang pengemis yang terus membuntutinya. Bahkan agar sang ‘target’ mengeluarkan uangnya, si pengemis sampai ‘berganti rupa’…”

Pak Musa, hari itu bernasib agak ‘sial’ rupanya. Ketika ia mulai masuk Masjid Nabawi, ada seorang pengemis yang terus mengincarnya. Pak Musa tidak tahu bahwa ia menjadi sasaran ‘tembak’ seorang pengemis muda.Ketika pak Musa shalat sunah sambil menunggu waktu shalat dhuhur, selalu saja pengemis tersebut membuntuti dan mendekatinya sambil menengadahkan tangannya sebagai tanda untuk minta uang. Pengemis muda itu memberi tanda dengan telunjuknya bahwa ia minta uang satu real saja. Rupanya takut shalatnya tidak khusyu’ pak Musa menghindar dari tempat duduk pengemis berbaju kotor tersebut. Dan pak Musa pun berpindah tempat ke shaf lebih depan sambil melakukan shalat lagi. Harapannya semoga sang pengemis tidak mendekatinya lagi. Rupanya pak Musa tidak membawa uang satu real-an, sehingga permintaan pengemis itu ia abaikan begitu saja. Pikir pak Musa :
“..ah biarlah, toh nanti ketika pada saatnya saya bawa uang satu real-an, akan saya berikan pada para pengemis yang cukup banyak jumlahnya itu…

Tetapi seolah pengemis tersebut mengetahui pikiran pak Musa. Ia terus mengejarnya. Dan terus minta uang satu real. Dan kembali pak Musa menghindar dengan cara ia berpindah ke tempat lain, dan masuk ke shaf yang lebih depan lagi.Demi menghindari sang pengemis muda itu, sampai-sampai pak Musa berpindah tempat duduk sebanyak empat kali. Akhirnya ia merasa aman pada suatu shaf yang padat yang tidak mungkin diisi oleh pengemis yang terus mengejarnya itu. Ia lakukan hal itu agar tidak bertemu dengan pengemis yang mengejar terus dan minta uang satu real tersebut… Maka sekarang amanlah pak Musa dari uang satu real yang diinginkan oleh sang pengemis muda itu.

Pak Musa mendapat tempat duduk di suatu shaf yang betul-betul ‘aman’. Maka berdzikirlah pak Musa dengan khusyu’nya sambil menunggu waktu shalat dhuhur tiba. Karena jama’ah di shafnya cukup padat dan rapat, maka ketika shalat dhuhur telah tiba dan semua berdiri untuk melakukan shalat, pada shafnya pak Musa tidak ada perubahan jamaah. Artinya tidak ada orang baru dalam shaf tersebut. Maka shalat-lah pak Musa dengan khusyuknya. Tetapi sesekali hatinya masih ada rasa khawatir, akan orangnya pengemis muda yang misterius itu. Yang selalu minta uang satu real.

Setelah shalat dhuhur selesai, semua mengucap salam sebagai penutup shalat dhuhur. Demikian pula dengan pak Musa. Ia mengucap salam dengan mantapnya. Tanda shalat telah usai.Tetapi begitu pak Musa mengucap salam kedua, sambil menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba jama’ah yang ada di sebelah kirinya, berkata kepada pak Musa dengan menggunakan bahasa inggris, yang maksudnya ia minta uang dan sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real

Ekspresinya menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real untuk suatu keperluan yang tidak bisa ditunda lagi. “…ukh!” tanpa terasa pak Musa mengeluarkan suara tersendat tanda terkejut setengah mati akan kejadian yang sangat tiba-tiba tersebut. Tanpa banyak bicara pak Musa pun mengeluarkan uang sepuluh real yang memang ada di sakunya. Ia merasa iba juga menyaksikan ekspresi wajah memelas dari orang tersebut.

Menghindar satu real, ‘terperangkap’ menjadi sepuluh real! Pak Musa hanya tersenyum memikirkan pengalamannya yang sangat unik tersebut. Pulang dari masjid, pak Musa terus berpikir. Sungguh aneh pengalamannya hari itu. Ia menjadi semakin sadar bahwa dalam hidup ini ada suatu wilayah yang sangat misterius, yang manusia tidak sanggup menganalisisnya. Tetapi yang penting kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa.

Sebuah pelajaran yang berharga adalah kadang tanpa sengaja kita telah berpaling dari orang-orang miskin, yang mungkin saat itu mereka sedang membutuhkan uluran tangan kita. Dan hari itu, pak Musa mendapatkan pelajaran baru. Bahwa siapa pun ternyata perlu untuk diperhatikan, walaupun sekedar seorang miskin, orang kecil yang bukan orang penting…

Al-Qur’an begitu banyak memberikan peringatan kepada kita tentang kelengahan kita terhadap orang-orang miskin.

QS. Al-Baqarah (2) : 83
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Bahkan Allah memperjelas dalam suatu ayat, bahwa tidak menghiraukan anak yatim dan orang miskin, termasuk mendustakan agama.

QS. Al-Maun (107) : 1-7
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Setelah memberi uang kepada orang di sebelahnya itu, pak Musa melanjutkan dzikir dan shalat sunah rawatib. Setelah itu, pak Musa tidak melihat lagi kemana perginya orang sebelah yang minta uang sepuluh real tadi.Tetapi yang masih membayang di pikiran pak Musa adalah, betapa proses ia mengeluarkan uang sepuluh real tadi di awali oleh sebuah proses yang cukup unik yaitu munculnya pengemis muda yang minta uang satu real. Dan terus-menerus ia mengejarnya.

Dengan alasan agar shalat tidak terganggu oleh sang pengemis muda, dihindarinya pengemis itu. Tetapi akhirnya menghindar dari satu real, pak Musa harus mengeluarkan sepuluh real. Dan sang pengemis muda tadi seolah telah berganti wajah untuk ‘memaksa’ pak Musa mengeluarkan uang sepuluh real yang ada di sakunya.

Yang aneh adalah bahwa pengemis muda itu, sudah ‘menunggu’ di shaf yang akan dimasuki oleh pak Musa. Sungguh aneh, misterius… , tapi nyata. Kalau seseorang sudah ditakdirkan harus mengeluarkan uang, maka pasti akan terjadi juga, meskipun kita lari kemana saja…. pak Musa pun kembali tersenyum mengenang kejadian itu.Ketika sampai di maktab berkatalah pak Musa kepada istrinya: “…baru saja aku memperoleh sebuah pelajaran baru yang sangat menarik…”

QS. Ali ‘Imran (3) : 134
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.


Responses

  1. Subhannallah..maha suci allah..begitulah kalau sudah ditakdirkan tidak boleh lari dari takdirnya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: