Oleh: bening1 | Maret 26, 2008

Milikilah salah satu sifat Allah

Hiasilah dirimu dengan kesempurnaan sifat sifat Allah yang maha tinggi.. Allah menpunyai 99 nama kebajikan, barang siapa memiliki salah satunya, pasti masuk surga. (hadist nabi)

Dalam hadis ini disebutkan “bila kita memiliki salah satunya pasti akan masuk surga”, memiliki “salah satunya” bukan berarti kita menggunakan nama kita dengan sebutan salah satu sifat Allah. itu salah kaprah. yang dimaksud disini bahwa kita dianjurkan minimal memiliki salah satu sifat allah. sifat Allah itu bukan untuk dimiliki sebagai title atau melekat untuk embel embel panggilan kita, untuk sombong sombongan, untuk bangga banggaan atau untuk pamer, melainkan bahwa sifat sifat itu ada dan melekat alias diamalkan pada kehidupan sehari-hari kita.

Misalnya ya rochman, yang kurang lebih artinya maha pengasih, atau maha pemurah. Kalo untuk orang awam rochman adalah nama yang sepertinya umum ditelinga kita karena banyak orang yang memiliki nama rochman, akan tetapi apakah benar perilaku orang yang bernama rochman ini sudah sesuai dengan sifat allah yang maha pemurah, apakah orang ini benar benar bermurah hati, murah senyum, murah rejeki [sering bersedekah], membantu orang disekitar kita yang kesusahan, atau ringan tangan membantu orang lain hanya untuk mencari ridlo Allah.

Jadi memiliki salah satu sifat Allah adalah dengan menerapkan sifat Allah kedalam kehidupan sehari hari, mulailah dari diri kita sendiri, perbaiki sifat sifat kita sebagaimana sifat sifat allah yang diajarkan pada kita, berikanlah teladan bagi orang lain, insyaAllah kita akan menjadi orang yang benar benar masuk surga.

Bila kita memiliki nama rochman sebenarnya bukan salah kita juga . itu semua pemberian dari orang tua kita, tanpa ijin kita, tanpa sepengetahuan kita, karena kita waktu itu masih bayi dan kita tidak bisa protes saat itu. Harapan orang tua kita dengan memberikan nama tersebut adalah bahwa kelak kita minimal bisa memiliki sifat sifat seperti sifat Allah. Harapan semua orang tua kelah anaknya bisa menjadi orang yang benar benar dicintai Allah dengan memberikan nama yang terbaik untuk anaknya, akan tetapi bila sang anak tidak diimbangi dengan pendidikan agama yang kuat sejak dini, bisa dipatikan anak tersebut tumbuh besar tidak sesuai dengan harapan orang tua alias tidak memiliki sifat sifat seperti sifat Allah yang melekat pada namanya.


Responses

  1. Eh terjemah haditsnya boleh di check lagi ?

  2. pengertian memiliki sifat Allah itu bukan berarti memiliki seperti syariatnya,

    Sifat Allah hanya milik Allah dan kalau bisa dimiliki oleh selain Allah berarti itu bukan sifat Allah.

    Memiliki yang dimaksud berarti melahirkan sifat Allah dalam perbuatan hamba.

    salam kenal dari http://myrazano.com

    ditunggu kunjungannya

  3. Asmaul Husnah ” semua umat muhammad memiliki perilaku yg digambarkan melalui arti sebuah ,cuman pengecualiannya AllAh ( MAHA ) sedang Kita Manusia yg punya Batasan “..,cuman bisa ber ikthiar AllAh LAH yg Memutuskan …….

  4. nb ‘ MaHa & Bukan ,intinya ini sifat AllAH

  5. nb ‘ MaHa & Bukan ,intinya ini sifat AllAH ,yg nantinya di Alami tiap manusia dalam berperilaku ,kita cuman bisa berikhtiar Hanya AllAH yg dpt MemutusKan , ber DoA Lah dng Menyebut AsMaul HusNa ……………………..

  6. Bismillaahirrohmaanirrohiiim………..

    Bismillaahi Maa Syaa Allah, Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil Adziim….
    Allaahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Aalihi Sayyidina Muhammad Fii kulli Lamhatiwwanafasin Bi ‘Ada di kulli ma’luumilak.

    Lautan Ilmu Allah Swt yang sangat….sangat…sangat luas sekali, Dalam ke Agungan-Nya tersimpan rapi di dalam Perbendaharaan Ilmu Allah yang Qodim. Dan apa2 yang ada dalam kehidupan ini tiada yang sia2 Semuanya mengandung makna dan Hikmah yang terangkum dalam 30 Juz Al-Qur’an sebagai manifestasi/kenyataan dari Hakikat-hakikat yang tersirat diseluruh sekalian Alam. Lalu kemudian Hakikat-Hakikat seluruh sekalian Alam itu tersimpulkan menjadi satu Hakikat Kehidupan dan Hakikat Kehidupan itu adalah “LAA ILAAHA ILLALLAAH”.

    Allaahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillaahil Hamd’

    “LAA ILAAHA ILLALLAH” adalah Kalimah Tauhid, yang Nur di dalamnya memancarakan Cahaya yang terang benderang, Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Ilmu Allah yang Maha Luas meliputi tiap2 segala sesuatu lalu terhimpun di dalam Syari’at Ilmul Yaqiin, Thoriqoh Ainul Yaqiin, Haqiqoh Haqqul Yaqiin dan Ma’rifat Kamalul Yaqiin.

    Dengan Ilmu yang dicerna oleh Akal akan menumbuhkan Pemahaman ttng “Syari’at”
    kemudian Akal tunduk kepada Hati yang tawadhu kepada Allah akan membuka jalan2 “Thoriqoh” menuju “ALLAH”
    Lalu Hati bergetar tatkala “ALLAH” telah Nyata dalam Pandangan Bathin(Musyahadah) akan “Haqiqoh”
    Dan Kemudian “KESADARAN” akan diri dan yang mengadakan diri telah tumbuh dalam “Ma’rifat”

    “AWALUDDIN MA”RIFATULLAH” = “Awal Agama Mengenal akan Allah”
    Mengenal tidak hanya sebatas Tulisan dan Nama, tetapi, dikatakan mengenal itu adalah bertemu dengan siapa yang dikenal. Bertemu dalam bahasa Ma’rifat yaitu *MERASAKAN DALAM KESADARAN PENUH KEHADIRAN ALLAH*.
    Bukan Menghadirkan Allah…….,
    tetapi MENYADARI dengan sebenar2nya KESADARAN bahwa ALLAH senantiasa HADIR dari awal tiada bepermulaan dan sampai akhir tiada berkesudahan.

    Jika menghadirkan Allah, maka HARAM lah…hukumnya, karena menghadirkan itu PASTI sesuatu yang jauh.
    Jika Menyadari akan kehadiran Allah yang senantiasa Hadir, Maka itu lah MA”RIFATULLAH yang sesungguhnya, karena Allah tidaklah jauh melainkan dekat. “Jika ada yang bertanya kepadamu tentang AKU(Allah), katakan bahwa AKU dekat!!!”

    Lalu bagaimana dengan menyadari akan kehadiran Allah itu…???
    Tentu di awali dengan menuntut ILMU MA’RIFATULLAH, lalu kemudian di benarkan dengan HATI dan merasakan dalam JIWA lalu datanglah KESADARAN. “Man Lam Yazuq Lam Ya’rif” (Barangsiapa yang belum Merasakan, maka belumlah dikatakan mengenal)

    Di dalam beberapa Kitab Tasawuf khususnya di Daerah tempat saya tinggal, tertulis “Barang siapa mengeluarkan NAFAS, tiada disertai dengan “INGAT” ALLAH, maka matinya seperti binatang, bukan SAPI melainkan BABI”. “INGAT” di sini adalah Ingat yang sebenar2nya Ingat, bukan Ingat sebagaimana Manusia mengingat sesuatu. Syech Djamaluddin Surgi Mufti Bin Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari bin Abdullah Lok Gabang bin Abu Bakar bin Sultan Sayyid Abdurrasyid Mindanau bin Abdullah Filiphin bin Abu Bakar Al-Hindi bin Ahmad Ash-Shalaibiyyah bin Husain bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al-Idrus Al-Akbar bin Abu Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Saqof bin Muhammad Mawla Dawillah bin Ali Shahib Ad-Dark bin Alwi Al-Ghayur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqoddam bin Al-Faqih Nuruddin bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholiqul Qasam bin Alwi bin Muhammad Mawla Sama’ah bin Alwi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir (Imam Al-Muhajir Ahmad) bin Isa Ar-Rum bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uradhy (Araidhy) bin Jafar Ash Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin Bin Sayyidina Husein ra. bin Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah mengatakan bahwa : “Barangsiapa berzikir/ingat, maka zikirnya/ingatnya itu HARAM. Semakin banyak berzikir semakin banyak HARAMnya, semakin banyak lagi berzikir maka semakin banyak lagi HARAMnya”.

    Karenanya sangat………sangat…..sangat penting sekali Ma’rifatullah itu, agar dapat masuk dalam INGAT yang sebenar2nya INGAT di setiap tarikan dan hembusan nafas. Sehingga apabila ajal menjemput tidak termasuk “Ulaa ikal An’aam/Mereka itu seperti binatang”. Ma’rifatullah yang dimaksud adalah Ma’rifat yang sebenar2nya Ma’rifat, yang telah tumbuh kesadaran pada diri karena telah satu dalam RASA dan berada dalam ke DIAM an-Nya.

    Lenyap segala pandangan ZAHIR lebur ke dalam pandangan BATHIN, menjadi satu dalam IHSAN. IHSAN itu INTI dari SHOLAT yaitu LIQO’ ALLAH

    Kesimpulan :
    Jika tidak menyelam ke dalam ILMU MA’RIFATULLAH maka HATI akan BUTA dari INGAT akan ALLAH. Karena NAFASnya tiada “serta” ZIKIR ALLAH. Lalu RASA dan KESADARAN akan HADIRnya ALLAH, semu dan Fatamorgana. Bagaimana bisa dikatakan ber TAUHID..??? Walau banyaknya Ayat yang telah di hafal, walau banyaknya Hadits yang dikuasai, walau banyaknya amal ibadah, walau tingginya GELAR dan TITEL semuanya itu…menjadi HAMPA tanpa TAUHID.

    Dan ketika seseorang telah menyelam di dalam ILMU MA’RIFATULLAH, maka HATI akan MELIHAT ALLAH, melalui Sirr yang ada pada dirinya dan ZIKIR ALLAH senantiasa “serta” naik turun NAFASnya di setiap detik. Lalu mengalir lah RASA dan tumbuhlah KESADARAN akan ALLAH senantiasa HADIR dan MELIPUTI. Dekat tiada bersentuh, jauh tiada berjarak dan NYATA se NYATA-NYATAnya. Maka mereka itulah yang benar TAUHID nya sehingga…Banyaknya Ayat yang dihafal, Banyaknya Haadits yang dikuasai, amal dan ibadah yang dilakukan menjadi Hikmah yang sangat baik bagi dirinya. Dan adakah keberuntungan selain mereka itu…??? Dan Bukankah Allah telah berfirman : “Alam Nasyroh laka Sodrok” (Apakah belum KU bukakan Dadamu…???).

    by : Pengembara Jiwa

  7. (Al Baqarah 186 ). WA IJA SA A LAKA ‘IBA DIPA INNI QORIB Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat

  8. QS. Azd Dzariyat 21. WA FIAMPUSIKUM APA TUB SIRUN = Aku ada pada dirimu mengapa engakau tidak memperhatikan, mengetahui, mengenalnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: