Oleh: bening1 | November 21, 2009

Baca Qur’an atau baca Koran?

apa sih bedanya kita baca koran dan kita baca al qur’an, ternyata banyak sekali bedanya. akan tetapi apakah kita selama ini tau perbedaan tersebut, atau kita gak mau tau?.

kalo baca koran
kalo baca koran insya allah bagi yang berlangganan koran atau sering beli koran setiap hari atau setiap waktu pasti dibacanya koran tersebut. bahkan orang yang gak pernah beli koran mencoba atau berusaha untuk membaca informasi yang terkandung didalam koran, baik itu berita, iklan, gambar atau cuma sekedar humor (komiknya) dengan cara meminjam, atau ketika menemukan serpihan korang atau koran bekas yang dengan mudah kita temukan. bahkan koran bekas bungkus kacang pun kadang masih dibaca lagi. hampir semua orang tertarik dengan koran. tetapi koran itu hanya berisikan informasi, berita, teknologi, atau humor. hanya sekedar selingan kebutuhan hidup. setelah kita baca kemudian kita lupakan, setelah kita baca gak akan ada yang terjadi dalam diri kita. kecuali kita termakan sama informasi tersebut yang akan merubah pola dan gaya hidup kita. jika koran tersebut datang harian, berarti setiap pagi kita tidak ingin ketinggalan berita, kita rajin menungguin koran tsb. diantar. bila koran datang mingguan, sudah mulai sehari sebelumnya koran tersebut udah dinanti-nanti. bagi sebagian orang, koran tersebut merupakan candu, rasanya belum komplit hidup ini bila belum baca koran.

membaca al qur’an
membaca qur’an jangan disamakan dengan membaca koran, quran telah diterjemahkan dalam banyak pertemuan bahwa qur’an itu adalah undang undangnya orang islam, syariat islam itu ada dalam qur’an. jadi kita membaca qur’an itu bukan hanya membaca, bukan hanya dipelototin atau dilagukan, tetapi juga harus dilaksanakan. namanya juga undang undang, kalo tidak dilaksanakan atau diterapkan dalam kehidupan itu sama saja kita dengan membaca koran. kalo namanya undang undang dibaca tetapi tidak dilaksanakan, sama saja kita membeli sebotol air minum, kita baca tulisan yang terdapat dalam label botol, kita baca seribu kalipun kita akan tetap haus, (baca) “air asli pegunungan, bersih, segar, dan menyehatkan. cocok diminum setalah beraktivitas” baca seribu kali diulang ulang tidak akan ada pengaruhnya, tetap haus. baru setelah kita buka tutup botol, kita minum, baru hilang hausnya, jadi ya harus dilaksanakan, diterapkan. jadi baca qur’an jangan seperti baca koran….tetapi sejauh pengamatan saya belum pernah saya menemui orang yang ketagihan membaca qur’an. menunggu nunggu waktu untuk membaca alqur’an. kebanyakan kita hanya membaca qur’an hanya ketika susah. dan menganggap bahwa qur’an itu sebabagi tuhan… subhanallah..

masih mencari pahalanya baca qur’an????
jangan seperti anak kecil, (baca) kalo kita membaca 1 juz kita akan masuk surga, kalo kita apal 5 juz, kita disurga bersama orang tua kita. dll. padahal pahala itu akan kita rasakan bila setelah kita membaca al qur’an, kemudian kita terapkan dalam kehidupan. setelah kita tau undang undangnya, kita patuhi dan kita laksanakan. itulah yang menghasilkan pahala….,pahala dari perbuatan kita, bukan pahala dari membaca.
bagaimana bila undang undang dasar negara kita tidak kita laksanakan. tentu negara ini akan amburadul….
karena semua berusaha hanya membaca, tidak dilaksanakan.

menghapal ayat suci alqur’an itu wajib, karena itu merupakan undang undang, merupakan panduan, tuntunan hidup kita, untuk menyelamatkan kita didunia dan di akhirat.


Responses

  1. smoga hmba kn slalu jd yg lbih baik dr hr ke hr,sesuai bmbingan orang tua pmbina n gru bsar kt brsama.AMIN YA ROB….

  2. subhanallah emg betul jaman sekarang jarang kita lihat org menunggu membaca alquran apalagi mengamalkannya semoga bagi kita yg membaca artikel menjadi lebih rajin membaca alqurannya bukan hanya membacanya tapi juga mengamalkannya

  3. Smoga saya dan anda yg membaca artikel ini akan sadar btapa pentingnya kita mengamalkan al-qur”an,Amin..

  4. Ass wibb
    Membaca artikel mbak wulan saya ingat, tadinya saya membaca Kitabullah hanya mengejar khatam, beberapa kali saya khatamka Kitabullah ! saya bertanya dengan diri saya, sambil membuka tapsir dan membaca hadistnya serta sunnah Nabiallah, Kitabullah seolah-olah mati!
    Saya kenali diri saya dan lama kelamaan akhirnya saya bertanya dengan orang tua saya (sekarang sudah wafat), semakin ditanya semakin saya dikatakan kamu akan sombong kalau tidak tau dari diri sendiri.
    Akhirnya saya dituntun oleh almarhum dan atas dorongan dari ajaran Syech Urip, dimana beliau mengajarkan kepada murid-muridnya “belajarlah mematikin diri sendiri sebelum kamu mengalami kematian yang sesungguhnya”, disitulah saya mulai mendalami ilmu islam yang sesungguhnya, saya belajar dan menekuni hingga sekarang, dan ternyata saya temui hakekat hidup yang sesungguhnya ternyata lebih nikmat hidup didunia dalam dibandingkan dengan dunia luar yang hanya fatamorgana/dunia khayal yang bukan sesungguhnya, setelah saya baca Kitabullah dengan etika dalam, saya selalu mendapat bimbingan maksud surat persurat dalam ayat -ayat Kitabullah seolah-olah saya dibawa kedunia yang jauh dengan kenikmathan.
    Sesungguhnya Kitabullah itu hidup apabila kita mengetahui kulit dan isinya itulah kenikmatan yang sesungguhnya, kecintaan kita dengan Allah dan kecintaan kita dengan Nabiallah SAW, hingga sekarang saya juga berhubungan dan dituntun dengan almarhum orang tua saya.
    Mudah-mudahan apa yang dialami oleh saya juga akan dialami oleh umat Nabiallah SAW yang mumin, sampai ajaran itu akan putus setelah kita dikhatamkan oleh waktu.

    Wassa Wibb

    Syech Jagad


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: