Membaca sebuah sketsa dengan judul Dokter Akhlaq,menggelitik keinginan saya untuk menulis artikel ini..
Akhir-akhir ini saya amat prihatin..
Banyak hal yang mempengaruhinya.. coba cerna rentetan peristiwa berikut
- Kenaikan harga sembako di akhir tahun,yang setiap tahunnya tidak dapat dihindari
- Kenaikan BBM yang membuat seluruh aspek kehidupan mengalami peningkatan & perubahan tajam
- Kenaikan jumlah rakyat miskin
- Kenaikan tingakat kriminalitas
- Fenomena sosial negatif yang semakin meningkat
Belum lagi selesai soal rumitnya mengatur pendapatan yang tidak seimbang dengan harga-harga barang kebutuhan di luar,muncullah banyak skandal di kalangan orang-orang yang mendapat kepercayaan rakyat untuk memimpin negeri ini.. bukan hanya skandal untuk mendapatkan kedudukan & uang yang notabene ‘uang hitam’.. tetapi juga kerusakan moral pemimpin yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh yang namanya wakil rakyat.Rakyat dicekoki berbagai berita kebejatan akhlak orang-orang di kursi kepercayaan,padahal seharusnya mereka menjadi panutan.. mengemban amanah orang banyak akan tetapi malah mencoreng-moreng diri sendiri,negara indonesia bahkan agama Islam.
Kemudian disusul tindakan kasar yang dilakukan ormas Islam terhadap saudaranya sendiri,Naudzubillah.. saudara menghina saudara,saudara menganiaya saudara. Apa ini namanya? sudah tidak ada lagi kebersamaan, kasih sayang kah?
Boro-boro mau syiar, menunjukkan indahnya, bagusnya islam kepada yang belum islam.. Terhadap saudara sesama Islam saja sudah tidak ada rasa mencintai.. bagaimana mau merangkul orang lain yang belum Islam untuk mencintai Islam.
Seluruh dunia bertanya, seperti itukah Islam? identik dengan kekerasan? identik dengan perkataan kasar yang saling melempar tudingan menjadi fitnah satu sama lainnya? Jujur saya hanya bisa bersedih ketika mengingat ini semua. Islam yang artinya selamat seolah tidak ada tanda-tandanya. Mirisnya sedikit sekali yang sadar,perbedaan adalah fitrah, permasalahan tidak dapat diselesaikan dengan saling adu otot, adu argumentasi, saling lempar pernyataan mematikan lewat media,semua pihak menonjolkan kepandaiannya bersiasat , memutarbalikkan fakta untuk membela kepentingannya. Jika sudah demikian siapa korbannya? ujung-ujungnya adalah keluarga sendiri.. istri dan anak-anak ikut menanggung beban moral karena tingkah polah ayah-ayah yang seharusnya menjadi imam mereka, menjadi panutan, melindungi, menjaga dan memberi ketentraman dalam keluarga.. raib! ditelan persoalan yang sesungguhnya bisa diselesaikan secara baik-baik, tidak dengan jalan mendzalimi orang lain. Baca Lanjutannya…